Kelompok Simpan Pinjam Warga Sejahtera

Menuju Koperasi Berbadan Hukum

Jual Rumah dan Tanah untuk Lunasi Utang

24-06-2009 07:10 WIB
‘Lintah Darat’ Merajalela di Tamansari
Jual Rumah dan Tanah untuk Lunasi Utang

TAMANSARI – Mayoritas warga Kecamatan Tamansari, terjerat utang piutang dengan bank keliling alias renternir yang kini merajalela. Tidak tanggung-tanggung, salah satu korban renternir atau lintah darat menjual rumah dan tanahnya untuk melunasi utangnya.

Merajalelanya lintah darat di kecamatan yang dipimpin Daswara Sulanjana karena sulitnya warga mendapatkan pinjaman ke Bank. Terlebih tidak bergeraknya koperasi simpan pinjam yang dikelola masyarakat.

Alhasil, bank keliling yang menawarkan bunga selangit tanpa persyaratan itu menjadi pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Hampir 60 persen warga Desa Sukajadi terjerat utang piutang dengan bank keliling,” kata Kepala Desa Sukajadi Alan Sumarna, kemarin, di ruang kerjanya.

Alan mengatakan, ada sepuluh orang lebih petugas bank keliling menawarkan dan menagih utang kepada masyarakat setiap hari. Persyaratan yang mudah menjadi daya tarik masyarakat.
“Warga kesulitan meminjam uang kepada bank profesional karena persyaratan. Apalagi koperasi di Kecamatan Tamansari tidak ada,” ujarnya.

Dengan pola pendekatan yang baik oleh petugas bank keliling, utang warga tidak pernah putus dan terus bertambah. Bahkan, beberapa warga di Desa Sukajadi menjual rumah dan tanahnya untuk melunasi bank keliling.

Alan menjelaskan, warga yang meminjam uang Rp1 juta, hanya mendapatkan Rp900 ribu dengan alasan Rp50 ribu untuk administrasi dan Rp50 ribu untuk tabungan. “Sisanya, warga membayar Rp30 ribu setiap hari. Kalau tidak sanggup, petugas bank keliling menawarkan lagi utang untuk menutup utang sebelumnya dan membuka utang yang baru. Alhasil, utang bukannya menipis malah semakin membengkak,” jelas Alan.

Aparat Desa sering mengimbau warga untuk menghindari bank keliling agar tidak terjerat utang. Tapi, hal itu tidak pernah didengar warga. “Untuk masalah ini, Pemerintah Kabupaten Bogor harus mengambil langkah tegas untuk mengantisipasi maraknya bank keliling,” jelasnya.

Hal serupa juga dialami warga Desa Sukaresmi. Jeratan utang warga kepada bank keliling di desa yang dipimpin M Atin ini juga mencapai 60 persen.

“Saya pernah mengumpulkan petugas bank keliling untuk keluar dari Desa Sukaresmi. Tapi mereka tetap saja mencari mangsa, dengan alasan membantu warga,” ujarnya.

Atin juga mengakui, beberapa warga di desanya rela menjual rumah dan kebunnya untuk melunasi utang kepada bank keliling. “Saya berharap Pemkab turun tangan mengatasi bank keliling,” tandasnya. (miq)

Juni 24, 2009 - Posted by | 1

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: